NAMA :
ANGGEA SELVIA MARTHA
NPM : 21214219
KELAS : 1EB10
FAKULTAS EKONOMI, JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA, DEPOK
NPM : 21214219
KELAS : 1EB10
FAKULTAS EKONOMI, JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA, DEPOK
TULISAN 2 : PENGANTAR BISNIS
Keinginannya
untuk mandiri sedari dini, membuat Muktiningsih cerdas membaca berbagai peluang
bisnis. Berawal dari dua potong pakaian kreditan, kini ia memiliki butik megah
Mega Fashion dan sejumlah bisnis lainnya.
Sebuah
foto keluarga berukuran besar tergantung di ruang tamu di rumahnya yang megah
di Jalan Jagalan Kediri. Mirip. Mirip sekali dengan penyanyi Cici Paramida.
Semula saya tidak mengira bahwa foto tersebut adalah milik sang empunya rumah,
pasangan Muktiningsih dan Agus Purnomo yang mengapit putri semata wayangnya Elke.
Di depan rumahnya persis (hanya dipisahkan gang) berdiri
kokoh butiknya Mega Fashion. Pada lantai pertama terpajang semua produk fesyen
mulai dari pakaian, tas, asesoris, parfum dan produk- produk mode lainnya. Di
lantai dua terhampar ruangan untuk gym, pelatihan dansa dan ruangan layanan
perawatan kecantikan serta kesehatan Roemah Cantik Langsing. Tak pernah ada
yang mengira bisnis sebesar itu bermula dari dua potong pakaian.
Muktiningsih, yang akrab disapa Mbak Ning oleh para
pelanggannya, memulai usaha ketika duduk di bangku SMA di Kediri. Awalnya ia
membeli dua potong pakaian dari orangtua temannya yang berjualan pakaian.
“Waktu saya pakai ada teman lain yang tertarik. Saat itu pikiran saya langsung
bekerja, kenapa saya tidak berbisnis jual beli pakaian saja,” ungkap Ning.
Kemampuan menangkap peluang ini tidak terlepas dari rekaman
di bawah sadar Ning yang diprogram secara berulang-ulang melalui pesan-pesan
yang berulang-ulang juga dari orangtuanya. Sebagai anak pertama dari empat
bersaudara di keluarganya Ning selalu menerima pesan dari orangtuanya,”
Meskipun kamu seorang wanita, kamu harus mandiri sehingga suatu saat ketika
kamu membantu adik-adikmu kamu tidak perlu merepotkan suami kamu,” ulang Ning
tentang pesan orangtuanya.
Pemograman bahwa sadar tentang kemandirian inilah yang
membuat Ning memutuskan untuk berjual beli pakaian saat temannya mengaku
tertarik pakaian yang dikenakan Ning. Ia membeli beberapa potong pakaian dari
orangtua temannya dan menjual lagi ke sejumlah teman lainnya. Dari jual-beli
pakaian di lingkungan teman-teman sekolah itulah jiwa bisnis Ning terasah.
Rumah orangtua Ning kebetulan dilewati ribuan karyawan rokok Gudang
Garam.
Pernah suatu waktu ia melihat sejumlah karyawan antre di
depan toko sembako orangtuanya untuk membeli keperluan sehari hari, semisal
pasta gigi, shampoo dan sabun mandi. Ning melihat ketidakefisienan pelayanan
dari orangtuanya sehingga banyak pembeli yang tidak terlayani. Oleh karena itu,
Ning membuat terobosan dengan membungkus berbagai keperluan sehari-hari
tersebut menjadi satu paket.
Berkat terobosan itu para pembeli dengan cepat terlayani dan
omsetnya pun membengkak karena para konsumen tinggal mengambil paket tanpa
harus antre. Bakat dagang Ning inilah yang menggerakkan orangtuanya untuk
membangun toko pakaian kecil di samping toko sembakonya.
Harga kompetitif dan mode yang up to date adalah dua kunci
dari beberapa kunci sukses berbisnis pakaian. Itu sebabnya Ning yang memutuskan
diri tidak melanjutkan kuliah selepas SMA, tidak mau kulakan pakaian di Kediri,
melainkan ke Kapasan Surabaya. “Dengan naik kereta api, dua hari sekali saya
pergi ke Kapasan Surabaya untuk kulakan,” tutur Ning.
Dalam waktu singkat Ning mendapat kepercayaan dari grosir
pakaian di Kapasan. Dengan semakin banyaknya produk pakaian, Ning mulai
memikirkan cara pemasarannya. Ia mulai menciptakan reseller di lingkungan
karyawan rokok Gudang Garam.
Satu reseller bisa menghasilkan omset Rp20 juta hingga Rp25
juta/ bulan. “Pada tahun 1989/1990 saya memiliki sekitar 20 reseller,” ujarnya.
Berarti Ning bisa menangguk omset Rp400 juta hingga Rp500 juta/bulan. Itu belum
termasuk hasil penjualan dari tokonya sendiri. “Menjelang lebaran omset toko
bisa mencapai Rp25 juta/hari,” papar Ning.
Namun masa booming langsung redup ketika perusahaan rokok
Gudang Garam mewajibkan karyawannya berseragam. Untuk mempertahankan
omset—dibantu suaminya Agus Purnomo—Ning membeli satu toko di Pasar Sonobetek,
Kediri. Kejayaan berjualan pakaian sempat bertahan hingga beberapa tahun
kemudian. Tetapi ketika di Kediri menjamur beberapa pusat perbelanjaan, omset
toko pakaian Ning di Pasar Sonobetek turun drastis.
Di sinilah keberanian dan feeling bisnis Ning diuji.
Keberadaan sejumlah tempat perbelanjaan di Kediri, alih-alih menciutkan nyali
Ning, justru wanita kelahiran tahun 1969 ini mengambil langkah besar. Ia
membeli tiga ruko sekaligus di Jalan Pattimura Kediri. Tiga ruko tersebut
direnovasi dan disatukan menjadi Butik Mega Fashion. Menyadari Butik Mega
Fashion tidak berada di tempat strategis, Ning melancarkan jurus baru dalam
pemasarannya. Ia masuk dan tergabung dalam sejumlah kegiatan arisan.
Sekalipuan ia bukan istri dokter, arisan istri-istri dokter
pun ia ikuti. Bahkan bukan hanya arisan yang anggotanya berlingkup di Kediri,
arisan yang berada di Surabaya dan pesertanya tersebar di beberapa kota ia
ikuti juga. “Sambil arisan, saya membawa produk-produk fesyen. Itulah cara saya
memperkenalkan produk- produk,” ujarnya.
Tetapi dengan sasaran konsumen yang berbeda dari sebelumnya
ini membuat Ning rela bolak-balik Jakarta-Kediri setiap minggunya untuk
kulakan. Itu sebabnya meski ia berjualan di Kediri tetapi barometer modenya
adalah Jakarta.
“Produk butik saya tidak kalah dengan tempat-tempat
perbelanjaan mentereng di Kediri. Ini yang membuat konsumen saya masih terus
berdatangan meski Mega Fashion tempatnya kurang strategis,” ungkap Ning tentang
kiatnya mendatangkan pelanggan.
Ketika Ning memperluas usahanya ke pelatihan aerobik, senam,
dansa dan perawatan kecantikan serta kesehatan Roemah Cantik Langsing, jurus
mendatangkan pelanggan dengan masuk ke sejumlah arisan tetap dilakukan.
Hasilnya “orang-orang penting” di Jalan Doho Kediri tercatat menjadi konsumen
setianya.
“Dalam berbisnis saya memakai feeling. Bisnis apa yang
menurut saya prospektif langsung saya jalankan tanpa menunda-nunda waktu,”
tutur Ning tentang kiat bisnisnya. Pengakuan Ning sekaligus mengungkapkan bawah
sadarnya yang sudah terinstall program Enter, bukan Entar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar